Document ID: /fineweb-2-swissfilter-quality_10-filterrobots/filtered/06687.jsonl.gz/4

Sisa-sisa bangunan Gereja Agung Emden, sebuah konstruksi dengan gaya Gothik yang sangat indah yang dihancurkan oleh bom-bom Sekutu pada Perang Dunia ke-2, diubah menjadi sebuah perpustakaan khusus mengenai teologi dan sejarah Gereja Reformed pada tahun 1990-an. Dalam perjalanannya, Perpustakaan Johannes a Lasco menjadi sebuah pusat konferensi Reformed dan forum seni dan kebudayaan yang terkenal. Pada tanggal 17-19 Februari 2016, tempat ini menjadi tempat diselenggarakannya konferensi internasional tentang “Migrasi dan Agresi di Eropa” yang diadakan oleh Aliansi Reformed di Jerman dan WCRC Eropa.
Sejumlah 60 orang peserta dari berbagai negara di Eropa merasakan bagaimana kota Emden, yang pernah menjadi suaka bagi ribuan orang Kristen Reformed yang diburu pada tahun 1500 dan 1600-an, merupakan tempat yang sarat makna untuk merefleksikan dan mendiskusikan isu-isu terkini tentang migrasi. Hingga saat ini, Gereja Agung di Emden masih dikenal dengan sebutan terhormat “Moederkerk” (gereja ibu) karena pada tahun 1600-an ia menyelamatkan komunitas Reformed di Belanda yang hendak dimusnahkan.
Konferensi ini dimulai dengan analisa terhadapa situasi politis yang menyebabkan terjadinya migrasi massal dari Timur Tengah ke Eropa Barat. Dalam presentasi pembukanya, seorang jurnalis Jerman, Andreas Zumach, memprediksi akan adanya aliran pengungsi yang terus menerus dari Syria dan sekitarnya untuk dua hingga tiga tahun ke depan. Tidak adanya stabilitas politik di Timur Tengah dan Afrika Utara akan menyebabkan lebih banyak lagi migrasi dalam jangka panjang. Zumach menekankan bahwa komunitas dunia telah gagal mendukung Badan Pengungsi PBB yang tengah menghadapi tantangan kemanusiaan terbesar sejak didirikannya badan tersebut pada masa setelah Perang Dunia ke-2.
Beberapa pembicara menunjukkan fakta bahwa Yohanes Kalvin secara khusus memberikan perhatian terhadap masalah pengungsian, karena ia sendiri beserta ribuan orang Protestan dari Perancis lari dari ancaman dan tinggal dalam pengungsian. Ini sangat memengaruhi teologi Reformed, yang menurut Helman Selderhuis dari Belanda, menciptakan “sebuah model gereja yang cocok untuk migrasi, yang dapat dipindahkan dan diekspor.”
Achim Detmers, sekretaris umum Aliansi Reformed di Jerman, dalam paper “Teologi Migrasi Menurut Kalvin” berdasarkan tafsiran Kalvin atas kitab Keluaran (1563), menunjukkan bagaimana Sang Reformator itu membandingkan pergumulan orang-orang Israel di Mesir dengan penderitaan yang dialami sesama orang percaya di Perancis dan mengambil posisi politik yang jelas mengenai tema-tema kepedulian terhadap yang miskin, penolakan terhadap tirani kekuasaan, dan ketidaktaatan sipil.
Berdasarkan khotbah Yohanes Kalvin mengenai Galatia 6:9-11, teolog Afrika Selatan Robert Vosloo menjelaskan konsep “pengenalan”, yaitu bagaimana kita “mengalami pengenalan akan kemanusiaan kita di dalam diri yang liyan, yang miskin dan yang tidak disukai, dalam diri orang asing.”
Pendalaman Alkitab memberikan pintu masuk yang lain untuk topik migrasi. Misalnya, dalam pendalaman terhadap Ayub 1:15 (“Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan“), Pdt. Sabine Dressler menggarisbawahi pentingnya mendengarkan cerita para penyintas dan menyediakan tempat serta pendengar bagi mereka untuk membagikan pengalaman dan trauma yang mereka alami. Gusztav Bölcskei, dari Debrecen (Hungaria), mengingatkan para peserta akan pentingnya Mazmur dalam spiritualitas dan ibadah Reformed, dengan secara khusus menunjukkan bahwa Mazmur merupakan sumber kelegaan yang paling sempurna bagi mereka yang mengalami tekanan dan penderitaan.
Dalam paper-nya, Herman Selderhuis menjabarkan pentingnya melindungi sang liyan dan memberi perhatian kepada “orang-orang asing di dalam pagarmu” menurut Perjanjian Lama. “Teologi Reformed memandang tinggi terhadap Perjanjian Lama, ini membantu kita untuk memahami isu migrasi secara teologis,” kata Profesor Selderhuis yang menekankan bahwa dalam kitab Ulangan dan kitab Mazmur “orang asing” seringkali disebut bersama dengan anak yatim piatu dan para janda sebagai mereka yang berada dalam perlindungan khusus dari Tuhan. Selain pengamatan ini, ia juga menyampaikan dimensi eskatologis dari topik tersebut terkait keyakinan Kristiani bahwa “dunia ini bukanlah rumah kita dan kita adalah kelompok yang berjalan bersama mengikuti Yesus.”
Dengan menggunakan pendekatan sejarah, Profesor Susanne Lachenicht dalam paper mengenai “Teologi Reformed Perancis dan Identitas Huguenot dalam Pembuangan” menunjukkan bagaimana para pengungsi Protestan dari Perancis mengalami penolakan dan xenofobia maupun keramahtamahan di berbagai tempat pengungsian.
Profesor Paolo Naso, dari Universitas Roma, berbicara mengenai “dinamika lama dan baru dari Imigrasi dan Integrasi.” Ia menggambarkan berbagai model integrasi, seperti model “melting pot” Amerika, model asimilasi Perancis, model multikultural Inggris dan model integrasi berpusat pada pekerjaan yang terjadi di Itali, yang menurut Profesor Naso semuanya gagal. Berbicara mewakili Federasi Gereja Protestan Italia, ia menawarkan sebuah paradigma baru untuk integrasi berdasarkan mutualitas dan pertimbangan terhadap semakin pentingnya faktor religius.
Martina Wasserloos-Strunk menyampaikan sebuah paper mengenai pentingnya “keanehan” atau “keliyanan” dalam pemikiran modern berdasarkan penelitian sosiologis dan empiris, dan konferensi ini ditutup dengan diskusi panel yang berfokus pada peranan gereja-gereja Protestan di Eropa dalam menghadapi isu ini. Yang mengambil bagian sebagai panelis adalah Martin Dutzmann, perwakilan dari Gereja-gereja Protestan di Jerman (EKD); Doris Peschke, dari Komisi Gereja untuk Para Migran di Eropa; Günter Krings, anggota Parlemen Federal Jerman; Paolo Naso, Federasi Gereja Protestan di Itali, dan Robert Vosloo, mewakili Fakultas Teologi di Stellenbosch, Afrika Selatan.
Jamuan minum the di balaikota Emden yang diadakan oleh walikota Andrea Risius menjadi bagian penting dari pertemuan ini. Dalam sambutannya, Risius menjelaskan bagaimana pelabuhan Emden mendapatkan kekayaan dan pengaruhnya di tahun 1600an karena migrasi ribuan pengungsi Reformed, dan pelabuhan tersebut memiliki kapal lebih banyak daripada Inggris Raya. Kapal-kapal tersebut membawa barang dari seluruh dunia ke wilayah Frisia Timur, termasuk teh. “Dalam beberapa bulan terakhir, Emden kembali menyambut ratusan pengungsi,” katanya. “Dalam hal ini kami mempertahankan tradisi kami, namun juga dalam hal menawarkan kepada semua pengunjung secangkir teh khas Frisia Timur dengan krim kental dan gula-gula (Kluntje).”